Hello everyone, I’m back and this time I
want to share about my first short story which is just made on one night, so hope
you like it, and sure you can leave your comments below to let me know about
your opinions that I will really appreciate.
Hujan terus turun tiada henti, menciptakan
hawa yang semakin dingin. Aku memutuskan untuk berteduh di teras sebuah rumah yang
cukup besar. Ternyata terdapat beberapa ekor kucing yang juga berteduh di sini.
Mereka segera menjauh setelah melihatku dengan ekor yang berdiri dan bulu yang
mengembang. Aku hanya melihat mereka dengan malas dan memilih untuk tidur di
sudut teras.
"Hei, siapa namamu? Kau lucu
sekali," ujar seorang gadis kecil yang membuatku terbangun. Dia terus
mengusap lembut tubuhku sambil tersenyum. Dia gadis kecil yang manis. Aku suka
cara dia tersenyum.
"Ayah, Ibu, lihat apa yang
kutemukan!" serunya dengan semangat, lalu aku melihat sepasang pria dan
wanita menghampiri kami. Aku rasa mereka adalah orang tua si gadis kecil.
"Anak anjing yang lucu, dia mungil
sekali," ujar wanita cantik itu sambil mengusapku dengan kasih sayang.
"Aku rasa dia kedinginan, sebaiknya
kita membawanya masuk," kata pria tampan itu dengan bijak.
"Oh benarkah Ayah? Apa kita juga
akan memeliharanya?" ujar si gadis kecil.
"Tentu saja Sayang, bagaimana
menurutmu?" tanya pria itu pada wanita cantik di sebelahnya.
"Kenapa tidak? Aku rasa dia tidak
ada pemiliknya," ujar wanita itu.
"Asyik, terima kasih Ayah, Ibu!”
seru si gadis kecil sambil mencium pipi pria dan wanita itu. Kemudian gadis
kecil itu menggendongku dalam pelukannya sambil tersenyum.
"Ayo Sayang, mari kita mandikan
dulu dia," ujar wanita itu pada si gadis kecil.
"Ayo Ibu,” kata si gadis kecil.
Mereka lalu membawaku menaiki tangga
spiral dan menurunkan tubuhku di dalam bak mandi pada kamar mandi yang cukup
luas. Kemudian mereka membasahi tubuhku dengan air dan menggosoknya dengan
sabun, lalu membilasnya. Setelah itu, si gadis kecil melapisi tubuhku dengan
handuk dan mengangkatku dalam pelukannya.
Dia lalu membawaku pada sebuah kamar
yang berdominasi dengan warna merah muda. Kurasa ini adalah kamarnya. Lalu dia
menurunkan tubuhku di sebuah bangku meja rias sehingga aku bisa melihat diriku
di cermin, juga dengan tubuh si gadis kecil yang tersenyum geli melihat
tingkahku. Kemudian dia mencolokkan kabel dan memegang sebuah alat yang
diarahkannya ke tubuhku. Alat itu mengeluarkan angin yang hangat dan dapat mengeringkan
tubuhku dengan waktu yang singkat.
Kemudian dia merapihkan buluku dengan
buku jarinya yang mungil. Dia tersenyum melihat diriku di cermin, lalu dia
mengambil sebuah alat di laci meja rias. Alat itu berbentuk kotak persegi panjang
dan berwarna merah muda. Aku rasa merah muda adalah warna kesukaannya. Kemudian
dia mengarahkan alat itu pada wajah kami berdua. Lain hal dengan alat yang
sebelumnya, alat ini mengeluarkan sinar yang membuatku silau. Dia lalu
mengambil sesuatu yang keluar dari alat itu dan tersenyum senang, kemudian
menunjukkan benda yang terlihat seperti kertas itu padaku. Aku tertegun, ternyata
di sisi lain benda itu terdapat gambar kami berdua.
"Bagaimana? Bagus kan?"
tanyanya padaku. Tentu saja sangat bagus, sayangnya aku hanya bisa menggonggong
meskipun aku berkata bagus sekali.
"Hei, aku belum memberimu nama ya,"
ujarnya sambil berpikir, "Bagaimana kalau Cody? Apa Kau suka? Menurutku
nama itu cocok untuk anjing yang tampan sepertimu," ujarnya sambil
tersenyum.
"Kalau Kau suka, Kau bisa kedipkan
matamu dua kali," ujarnya lagi. Tentu saja aku segera mengedipkan mataku
dua kali dengan cepat, aku tidak ingin mengecewakannya.
"Bagus! Anjing pintar!" seru gadis
itu sambil melompat riang, "Oh iya namaku Aira, aku tidak memiliki teman.
Kau adalah teman pertamaku di rumah baru ini," jelas si Aira kecil. Aku
bisa merasakan jika dia sangat kesepian. Mulai saat ini, aku berjanji untuk
menjadi teman yang selalu menemaninya kapan saja saat dia membutuhkanku.
Aira tumbuh dengan cepat bersamaku. Aku
juga memiliki beberapa jadwal harian bersamanya. Seperti jalan-jalan di taman
pada pagi hari di akhir pekan, menemaninya menyiram tanaman di halaman rumah
pada sore hari, dan pergi ke toko hewan sebulan sekali. Dia merawatku dengan
sangat baik seperti aku menjaganya.
Keluarganya juga selalu baik padaku.
Aku seperti menjadi bagian dari anggota keluarganya. Mereka selalu mengajakku
ke mana saja mereka pergi, tentu saja pengecualian untuk acara-acara yang
bersifat resmi. Tinggal dengan Aira dan keluarganya membuatku lebih banyak tahu
tentang benda maupun kegiatan manusia lainnya.
"Cody, aku tidak tahu bagaimana
hidupku jika aku tidak bertemu denganmu," ujarnya pada suatu malam ketika
dia sedang jatuh sakit, "Mungkin aku akan menjadi gadis paling kesepian
pada masa kecilku," ujarnya lagi. Aku bisa melihat genangan air di kedua
matanya yang teduh dan bagaimana air mata itu mengalir di pipinya. Saat itu aku
sadar jika tidak ada hal lain yang aku inginkan selain menjaganya dengan
nyawaku.
Dia adalah manusia paling sempurna yang
pernah aku tahu. Selain pandai memotret, Aira juga bisa mendesain, dan melukis.
Aku sering melihatnya duduk sambil menggenggam kuas dan berkutat dengan kanvas di
hadapannya hingga aku terlelap tanpa sadar, kemudian ketika aku terbangun,
benda putih polos itu telah berubah menjadi lukisan yang sangat indah.
"Cody, hari ini tepat lima tahun
di mana aku menemukanmu di teras rumah," ujar Aira padaku, “Coba lihat
ini, apa Kau suka Cody?” tanyanya sambil menunjukkan lukisan diriku bersamanya
saat kami masih kecil, persis seperti foto pertamaku dengannya di depan meja
rias.
"Aku membuatnya saat dirimu
tertidur karena lelah memandangiku melukis," jelasnya padaku. Aku tidak
tahu bagaimana cara menyampaikan perasaan bahagia ini. Aku sangat senang karena
masih ada seseorang yang memperlakukan hewan sepertiku dengan istimewa, seperti
kehadiranku adalah hal yang cukup berarti baginya.
Aku hanya bisa mengedipkan mataku dua
kali, sebagai tanda jika aku menyukai setiap pemberian maupun keputusannya, hanya
dengan cara tersebut yang bisa aku lakukan untuk memberitahu semua rasa bahagia
yang aku rasakan karenanya.
Kemudian tahun-tahun berlalu dengan
cepat, dia tumbuh menjadi Aira yang cantik dan juga anggun. Senyum manisnya
tidak pernah berubah. Namun sekarang dia menjadi jarang berada di rumah untuk
menghabiskan waktunya bersamaku. Aku tahu aku tidak boleh egois, dia juga
berhak untuk menghabiskan waktunya bersama teman-temannya.
Sering kali aku hanya bertemu dengannya
pada hari menjelang sore dan dia kembali pergi sebelum matahari terbit
sepenuhnya. Sekarang tidak ada lagi jalan-jalan di akhir pekan, menyiram
tanaman pada sore hari, maupun melihatnya duduk dengan menggenggam kuas dan
palet. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya di luar rumah. Dia juga menjadi
jarang mengajakku berbicara atau hanya sekedar menyapaku.
Suatu pagi aku melihatnya bergegas
dengan terburu-buru sekali, tapi dia akan tetap terlihat cantik, tidak peduli
pakaian apa yang dia kenakan, maupun secepat apapun dia bergegas.
"Ayah, Ibu, aku pergi dulu, ya,"
pamitnya pada ayah dan ibunya di meja makan.
“Apa Kau membawa sarapanmu?” tanya ibunya.
“Iya Ibu, tenang saja sudah kubawa di
dalam tas,” kata Aira.
“Jangan pulang terlalu sore ya,
Sayang," ujar ayahnya mengingatkan.
"Hati-hati ya, Sayang," kata
ibunya.
"Iya Ayah, Ibu," ujar Aira
sambil berlalu.
Sekarang aku jadi tidak memiliki
kegiatan yang harus kulakukan karena hampir seluruh kegiatanku hanyalah
menemaninya. Lalu aku memutuskan pergi ke kamar Aira untuk melihat lukisanku
darinya yang terpajang di salah satu sisi dinding kamarnya yang tetap berwarna
merah muda, warna kesukaannya. Kemudian aku duduk di bangku meja rias persis
seperti yang ada dalam lukisan itu, kadang aku merindukan Aira kecil yang
menghabiskan sebagian besar waktunya bersamaku.
Lalu aku melihat ponsel Aira yang
selalu dibawanya pergi berdering di atas meja rias. Aku langsung bergegas untuk
mengejar Aira sambil membawa ponsel itu di mulutku. Ayah dan ibu Aira pun ikut
mengejarku yang terburu-buru keluar membawa ponsel milik Aira yang masih
berdering.
Dari kejauhan, aku bisa melihat Aira
dan seorang pria yang tidak kukenal. Aira terlihat sangat ketakutan ketika pria
itu menodongkan pisau ke arahnya dan berusaha merebut paksa tas yang dibawanya.
Aku pun langsung berlari secepat mungkin menghampirinya, kemudian tepat saat
pria itu akan menusukkan pisaunya pada salah satu sisi perut Aira, aku berhasil
melompat untuk bisa melindunginya.
Selanjutnya yang bisa aku rasakan
hanyalah dinginnya pisau tajam itu menusuk tubuhku serta dengan rasa sakitnya
yang teramat sangat. Tapi bagaimanapun juga aku tidak menyesal, karena aku
telah berhasil melindunginya, aku telah menepati janjiku untuk menjaganya
dengan nyawaku.
"Cody, maafkan aku," ujarnya
lirih saat melihatku, bahkan suaranya hampir tidak bisa kudengar.
"Aku menyayangimu," ujarnya
sambil menangis. Aku bisa melihat banyak sekali air yang keluar dari matanya
yang selalu terlihat teduh. Lalu aku mendengar suara gaduh orang-orang yang
memukuli pria yang tadi berusaha merebut tas Aira, kemudian aku melihat ayah
dan ibu Aira duduk di sekelilingku, aku juga melihat banyak air yang keluar
dari mata keduanya.
Aku memang tidak pernah berpikir
tentang bagaimana caraku untuk mati, tapi dengan mengorbankan nyawaku demi
orang yang aku sayangi sepertinya adalah cara yang terbaik.

No comments:
Post a Comment