29 October 2016

My First Short Story

Hello everyone, I’m back and this time I want to share about my first short story which is just made on one night, so hope you like it, and sure you can leave your comments below to let me know about your opinions that I will really appreciate.

Sahabatku Aira

Hujan terus turun tiada henti, menciptakan hawa yang semakin dingin. Aku memutuskan untuk berteduh di teras sebuah rumah yang cukup besar. Ternyata terdapat beberapa ekor kucing yang juga berteduh di sini. Mereka segera menjauh setelah melihatku dengan ekor yang berdiri dan bulu yang mengembang. Aku hanya melihat mereka dengan malas dan memilih untuk tidur di sudut teras.
"Hei, siapa namamu? Kau lucu sekali," ujar seorang gadis kecil yang membuatku terbangun. Dia terus mengusap lembut tubuhku sambil tersenyum. Dia gadis kecil yang manis. Aku suka cara dia tersenyum.
"Ayah, Ibu, lihat apa yang kutemukan!" serunya dengan semangat, lalu aku melihat sepasang pria dan wanita menghampiri kami. Aku rasa mereka adalah orang tua si gadis kecil.
"Anak anjing yang lucu, dia mungil sekali," ujar wanita cantik itu sambil mengusapku dengan kasih sayang.
"Aku rasa dia kedinginan, sebaiknya kita membawanya masuk," kata pria tampan itu dengan bijak.
"Oh benarkah Ayah? Apa kita juga akan memeliharanya?" ujar si gadis kecil.
"Tentu saja Sayang, bagaimana menurutmu?" tanya pria itu pada wanita cantik di sebelahnya.
"Kenapa tidak? Aku rasa dia tidak ada pemiliknya," ujar wanita itu.
"Asyik, terima kasih Ayah, Ibu!” seru si gadis kecil sambil mencium pipi pria dan wanita itu. Kemudian gadis kecil itu menggendongku dalam pelukannya sambil tersenyum.
"Ayo Sayang, mari kita mandikan dulu dia," ujar wanita itu pada si gadis kecil.
"Ayo Ibu,” kata si gadis kecil.
Mereka lalu membawaku menaiki tangga spiral dan menurunkan tubuhku di dalam bak mandi pada kamar mandi yang cukup luas. Kemudian mereka membasahi tubuhku dengan air dan menggosoknya dengan sabun, lalu membilasnya. Setelah itu, si gadis kecil melapisi tubuhku dengan handuk dan mengangkatku dalam pelukannya.
Dia lalu membawaku pada sebuah kamar yang berdominasi dengan warna merah muda. Kurasa ini adalah kamarnya. Lalu dia menurunkan tubuhku di sebuah bangku meja rias sehingga aku bisa melihat diriku di cermin, juga dengan tubuh si gadis kecil yang tersenyum geli melihat tingkahku. Kemudian dia mencolokkan kabel dan memegang sebuah alat yang diarahkannya ke tubuhku. Alat itu mengeluarkan angin yang hangat dan dapat mengeringkan tubuhku dengan waktu yang singkat.
Kemudian dia merapihkan buluku dengan buku jarinya yang mungil. Dia tersenyum melihat diriku di cermin, lalu dia mengambil sebuah alat di laci meja rias. Alat itu berbentuk kotak persegi panjang dan berwarna merah muda. Aku rasa merah muda adalah warna kesukaannya. Kemudian dia mengarahkan alat itu pada wajah kami berdua. Lain hal dengan alat yang sebelumnya, alat ini mengeluarkan sinar yang membuatku silau. Dia lalu mengambil sesuatu yang keluar dari alat itu dan tersenyum senang, kemudian menunjukkan benda yang terlihat seperti kertas itu padaku. Aku tertegun, ternyata di sisi lain benda itu terdapat gambar kami berdua.
"Bagaimana? Bagus kan?" tanyanya padaku. Tentu saja sangat bagus, sayangnya aku hanya bisa menggonggong meskipun aku berkata bagus sekali.
"Hei, aku belum memberimu nama ya," ujarnya sambil berpikir, "Bagaimana kalau Cody? Apa Kau suka? Menurutku nama itu cocok untuk anjing yang tampan sepertimu," ujarnya sambil tersenyum.
"Kalau Kau suka, Kau bisa kedipkan matamu dua kali," ujarnya lagi. Tentu saja aku segera mengedipkan mataku dua kali dengan cepat, aku tidak ingin mengecewakannya.
"Bagus! Anjing pintar!" seru gadis itu sambil melompat riang, "Oh iya namaku Aira, aku tidak memiliki teman. Kau adalah teman pertamaku di rumah baru ini," jelas si Aira kecil. Aku bisa merasakan jika dia sangat kesepian. Mulai saat ini, aku berjanji untuk menjadi teman yang selalu menemaninya kapan saja saat dia membutuhkanku.
Aira tumbuh dengan cepat bersamaku. Aku juga memiliki beberapa jadwal harian bersamanya. Seperti jalan-jalan di taman pada pagi hari di akhir pekan, menemaninya menyiram tanaman di halaman rumah pada sore hari, dan pergi ke toko hewan sebulan sekali. Dia merawatku dengan sangat baik seperti aku menjaganya.
Keluarganya juga selalu baik padaku. Aku seperti menjadi bagian dari anggota keluarganya. Mereka selalu mengajakku ke mana saja mereka pergi, tentu saja pengecualian untuk acara-acara yang bersifat resmi. Tinggal dengan Aira dan keluarganya membuatku lebih banyak tahu tentang benda maupun kegiatan manusia lainnya.
"Cody, aku tidak tahu bagaimana hidupku jika aku tidak bertemu denganmu," ujarnya pada suatu malam ketika dia sedang jatuh sakit, "Mungkin aku akan menjadi gadis paling kesepian pada masa kecilku," ujarnya lagi. Aku bisa melihat genangan air di kedua matanya yang teduh dan bagaimana air mata itu mengalir di pipinya. Saat itu aku sadar jika tidak ada hal lain yang aku inginkan selain menjaganya dengan nyawaku.
Dia adalah manusia paling sempurna yang pernah aku tahu. Selain pandai memotret, Aira juga bisa mendesain, dan melukis. Aku sering melihatnya duduk sambil menggenggam kuas dan berkutat dengan kanvas di hadapannya hingga aku terlelap tanpa sadar, kemudian ketika aku terbangun, benda putih polos itu telah berubah menjadi lukisan yang sangat indah.
"Cody, hari ini tepat lima tahun di mana aku menemukanmu di teras rumah," ujar Aira padaku, “Coba lihat ini, apa Kau suka Cody?” tanyanya sambil menunjukkan lukisan diriku bersamanya saat kami masih kecil, persis seperti foto pertamaku dengannya di depan meja rias.
"Aku membuatnya saat dirimu tertidur karena lelah memandangiku melukis," jelasnya padaku. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan perasaan bahagia ini. Aku sangat senang karena masih ada seseorang yang memperlakukan hewan sepertiku dengan istimewa, seperti kehadiranku adalah hal yang cukup berarti baginya.
Aku hanya bisa mengedipkan mataku dua kali, sebagai tanda jika aku menyukai setiap pemberian maupun keputusannya, hanya dengan cara tersebut yang bisa aku lakukan untuk memberitahu semua rasa bahagia yang aku rasakan karenanya.
Kemudian tahun-tahun berlalu dengan cepat, dia tumbuh menjadi Aira yang cantik dan juga anggun. Senyum manisnya tidak pernah berubah. Namun sekarang dia menjadi jarang berada di rumah untuk menghabiskan waktunya bersamaku. Aku tahu aku tidak boleh egois, dia juga berhak untuk menghabiskan waktunya bersama teman-temannya.
Sering kali aku hanya bertemu dengannya pada hari menjelang sore dan dia kembali pergi sebelum matahari terbit sepenuhnya. Sekarang tidak ada lagi jalan-jalan di akhir pekan, menyiram tanaman pada sore hari, maupun  melihatnya duduk dengan menggenggam kuas dan palet. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya di luar rumah. Dia juga menjadi jarang mengajakku berbicara atau hanya sekedar menyapaku.
Suatu pagi aku melihatnya bergegas dengan terburu-buru sekali, tapi dia akan tetap terlihat cantik, tidak peduli pakaian apa yang dia kenakan, maupun secepat apapun dia bergegas.
"Ayah, Ibu, aku pergi dulu, ya," pamitnya pada ayah dan ibunya di meja makan.
“Apa Kau membawa sarapanmu?” tanya ibunya.
“Iya Ibu, tenang saja sudah kubawa di dalam tas,” kata Aira.
“Jangan pulang terlalu sore ya, Sayang," ujar ayahnya mengingatkan.
"Hati-hati ya, Sayang," kata ibunya.
"Iya Ayah, Ibu," ujar Aira sambil berlalu.
Sekarang aku jadi tidak memiliki kegiatan yang harus kulakukan karena hampir seluruh kegiatanku hanyalah menemaninya. Lalu aku memutuskan pergi ke kamar Aira untuk melihat lukisanku darinya yang terpajang di salah satu sisi dinding kamarnya yang tetap berwarna merah muda, warna kesukaannya. Kemudian aku duduk di bangku meja rias persis seperti yang ada dalam lukisan itu, kadang aku merindukan Aira kecil yang menghabiskan sebagian besar waktunya bersamaku.
Lalu aku melihat ponsel Aira yang selalu dibawanya pergi berdering di atas meja rias. Aku langsung bergegas untuk mengejar Aira sambil membawa ponsel itu di mulutku. Ayah dan ibu Aira pun ikut mengejarku yang terburu-buru keluar membawa ponsel milik Aira yang masih berdering.
Dari kejauhan, aku bisa melihat Aira dan seorang pria yang tidak kukenal. Aira terlihat sangat ketakutan ketika pria itu menodongkan pisau ke arahnya dan berusaha merebut paksa tas yang dibawanya. Aku pun langsung berlari secepat mungkin menghampirinya, kemudian tepat saat pria itu akan menusukkan pisaunya pada salah satu sisi perut Aira, aku berhasil melompat untuk bisa melindunginya.
Selanjutnya yang bisa aku rasakan hanyalah dinginnya pisau tajam itu menusuk tubuhku serta dengan rasa sakitnya yang teramat sangat. Tapi bagaimanapun juga aku tidak menyesal, karena aku telah berhasil melindunginya, aku telah menepati janjiku untuk menjaganya dengan nyawaku.
"Cody, maafkan aku," ujarnya lirih saat melihatku, bahkan suaranya hampir tidak bisa kudengar.
"Aku menyayangimu," ujarnya sambil menangis. Aku bisa melihat banyak sekali air yang keluar dari matanya yang selalu terlihat teduh. Lalu aku mendengar suara gaduh orang-orang yang memukuli pria yang tadi berusaha merebut tas Aira, kemudian aku melihat ayah dan ibu Aira duduk di sekelilingku, aku juga melihat banyak air yang keluar dari mata keduanya.
Aku memang tidak pernah berpikir tentang bagaimana caraku untuk mati, tapi dengan mengorbankan nyawaku demi orang yang aku sayangi sepertinya adalah cara yang terbaik.

No comments: